Senin, 11 Februari 2013

Kekayaan, Kesuksesan, dan Kasih Sayang


Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita." Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih-sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."

Rabu, 06 Februari 2013


Memanfaatkan Persamaan Dalam Tata Kehidupan Manusia


Salah satu faktor yang sangat penting dalam melaksanakan pembangunan di negara kita ini adalah terwujudnya masyarakat yang mempunyai kerukunan beragama. Adanya beberapa agama yang dianut oleh oleh masyarakat dewasa ini seringkali menimbulkan pertentangan dan benturan yang tidak pernah padam. Pertentangan dan benturan yang terjadi biasanya disebabkan adanya perbedaan dan kelainan syari’at atau tuntunan yang ada menurut agamanya masing masing. Ada kalanya hal tersebut hanya disebabkan oleh beberapa hal diluar tuntunan syari’at itu sendiri, akan tetapi pada prinsip ajaran agama itu sendiri sebenarnya bukanlah merupakan suatu persoalan yang prinsip. Pertentangan dan benturan itu ini telah ada sejak dulu kala dan secara berkesinambungan akan terus berlangsung dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.
Kalau dibicarakan masalah perbedaan didalam syari’at atau tuntunan agama yang menyebabkan adanya pertentangan dan benturan tersebut, maka akan diperoleh suatu alternative yang mengatakan bahwa tidak mungkin tercapai adanya kerukunan beragama. Sedangkan kalau kerukunan kehidupan beragama tidak dapat terwujud atau hanya merupakan suatu idealisme belaka, hal ini akan menyebabkan mudahnya pihak pihak yang tidak bertanggung jawab melancarkan aksinya untuk memecah belahkan agama yang ada. Bilamana suasana tersebut terus berlangsung, pihak pihak yang tidak bertanggung jawab itu akan dengan mudah mengatakan bahwa agama ternyata tidak dapat menciptakan masyarakat yang tenteram dan bahagia, akan tetapi agama yang ada selalu membawa masyarakat kearah yang negatif. Lebih tragis lagi kalau dikatakan bahwa agama yang ada merupakan penyebab adanya keresahan dan kekacauan didalam kehidupan masyarakat. Jikalau hal ini terjadi, maka akan menimbulkan beberapa pendapat masyarakat terhadap kehidupan beragama yang negatif, misalnya:
  1. Agama ternyata tidak dapat membawa kehidupan masyarakat yang tenteram dan bahagia dunia akhirat;
  2. Agama yang ada mungkin sudah tidak cocok dengan kondisi masyarakat, sehingga perlu dicari agama baru yang cocok;
  3. Tidak perlu adanya agama didalam kehidupan masyarakat, karena untuk mencapai kebahagiaan hidup tergantung pada pribadi atau kelompok masyarakat itu sendiri.
Bila kenyataan ini harus ditelan, maka dapat dipastikan akan timbulnya ajaran ajaran untuk mencapai kebahagiaan hidup yang non agama atau mungkin akan muncul faham komunis dalam bentuk baru didalam kehidupan masyarakat.
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal seperti itu, diperlukan suatu penelaan dan pengkajian kembali terhadap ajaran ajaran yang ada dengan mengesampingkan hal hal diluar prinsip agama itu sendiri. Kembali kepada ajaran agama secara murni dengan dedikasi yang tinggi disertai adanya rasa harga menghargai antara sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Secara garis besar, pada prinsipnya ajaran agama dapat dibagi dalam 2 hal pokok yaitu:
1. Hubungan manusia dengan Tuhan
Dalam hal ini menyangkut aktivitas kehidupan manusia didalam menyembah Tuhannya. Aktivitas ini merupakan pokok ajaran utama agama yang ada, namun pertanggung jawabannya adalah secara individu, artinya dalam aktivitas ini manusia bertanggung secara pribadi kepada Tuhannya.
Sebagai contoh adalah:
- Aktivitas penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Aktivitas yang berhubungan dengan pemantapan mental spiritual agama, misalnya puasa dan sebagainya.
2. Hubungan manusia dengan manusia
Dalam hal ini menyangkut aktifitas kehidupan manusia didalam kehidupan masyarakat menurut ajaran agama. Aktivitas ini merupakan pokok ajaran yang kedua dan masih mempunyai hubungan yang erat dengan pokok ajaran yang utama diatas, demikian pula mengenai pertanggungjawabannya.
Sebagai contoh diatas:
- Aktivitas manusia didalam kehidupan manusia itu sendiri misalnya perkawinan, perceraian, masalah warisan, hal makanan dan sebagainya.
- Aktivitas manusia didalam kehidupan dengan masyarakat sekelilingnya misalnya penanggulangan anak yatim, masalah kemiskinan, masalah pendidikan, masalah kesehatan dan sebagainya.
- Aktivitas manusia yang berhubungan dengan lingkungan hidup misalnya pemeliharaan hutan, pemeliharaan hewan, pemeliharaan lingkungan lainnya yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia itu sendiri secara pribadi maupun berkelompok (masyarakat).
Dari uaraian mengenai kedua prinsip tersebut, maka bila diteliti secara mendalam ternyata perbedaan prinsip yang menyolok terdapat pada prinsip yang pertama yaitu mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Sedang mengenai prinsip kedua akan ditemui banyak persamaannya, kalau pun ada perbedaannya tidaklah sekeras yang terjadi pada prinsip yang utama.
Dengan uraian tersebut diatas, marilah mengkaji kembali kitab suci agama masing-masing, kemudian barulah menentukan langkah selanjutnya. Mengenai adanya perbedaan yang ada hendaklah dimasukkan kedalam hati sanubari dengan rasa penuh keikhlasan dan kesabaran, kemudian marilah berpikir secara sehat dengan logika yang penuh rasa keimanan mengenaiadanya perbedaan dan bagaimana sikap pribadi terhadap adanya perbedaan itu. Manusia diciptakan untuk menyembah dan memulyakan Tuhan, disamping itu diharuskan pula untuk mencintai sesama manusia secara adil (berkasih sayang). Tidak mungkin manusia menyembah dan memulyakan Tuhan tanpa berkasih sayang terhadap manusia lainnya walaupun agamanya lain.
Dalam menjalankan syari’at agama masing-masing, ternyata musuh bukanlah manusia yang telah mempunyai keimanan kepada Tuhan Yang maha Esa. Musuh ummat beragama adalah syaitan yang selalu berusaha mempengaruhi manusia agar selalu mensekutukan Tuhan. Syaitan ini akan merasa senang bilamana manusia mengingkari adanya Tuhan atau manusia telah menjadi tidak ber-Tuhan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa musuh manusia adalah syaitan beserta segenap sekutunya yang terdiri dari manusia yang tidak ber-Tuhan atau pula manusia yang telah mempersekutukan Tuhan.
Negara tercinta yang berdasarkan Pancasila telah menyatakan bahwa syarat mutlak bagi kehidupan beragama di negara ini adalah mengakui dan menjalankan syari’at Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pengakuan tersebut tentu semuanya akan sependapat bahwa Tuhan dari masyarakat dan bangsa Indonesia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Atau dengan pernyataan secara keagamaan dapat dikatakan bahwa selain keyakinan mengenai ke-Tuhan-an Yang Maha Esa akan dapat digolongkan kepada musuh manusia yaitu termasuk golongan syaitan. Demikian pula pihak-pihak yang menginginkan adanya perpecahan di dalam kehidupan beragama yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa akan merupakan segolongan dengan syaitan.
Kemudian marilah berpikir lagi dengan logika yang penuh keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mungkinkah perbedaan agama yang ada sekaligus mencakup perbedaan Tuhan-nya, atau tiap-tiap agama mempunyai Tuhan sendiri-sendiri? Tentu semuanya akan sependapat bahwa yang berbeda adalah agamanya, akan tetapi Tuhan akan tetap satu atau sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa hanya penyebutannya berbeda menurut syari’at agama masing-masing.
Dengan demikian mungkin persoalan pokok yang utama telah dapat dimengerti bersama, atau masih memerlukan suatu pembahasan yang lebih khusus lagi.
Beberapa persamaan yang ada dalam syari’at agama-agama yang ada di negeri tercinta ini, belum pernah diadakan pendekatan. Selalu yang ditonjolkan adalah perbedaan yang menjurus ke arah pertentangan dan benturan. Jikalau semuanya sama meyakini falsafah ke-Tuhan-an Yang Maha Esa tersebut diatas dan yang lebih penting bisa menerimanya, maka tidak berlebihanlah untuk menonjolkan persamaan-persamaan yang ada daripada menonjolkan perbedaannya. Hal ini akan membawa manusia yang beragama untuk saling berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan dan berkasih-sayang terhadap sesama manusia.
Dalam mengadakan hubungan antar manusia untuk mendapatkan keridlaan Tuhan Yang Maha Esa, maka persamaan syari’at dari agama-agama yang ada di negeri tercinta ini adalah:
1. Berbuat baik kepada diri sendiri.
2. Berbuat baik kepada keluarga.
3. Berbuat baik kepada masyarakat sekelilingnya, termasuk pula masyarakat golongan miskin, yatim piatu, penderita cacat dan sebagainya.
4. Berbuat kebaikan kepada seluruh manusia yang ada tanpa membedakan suku, agama dan kebangsaannya.
5. Berbuat baik kepada alam lingkungan sekitarnya termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Adapun pengertian dan penjabaran dari 5 macam perbuatan baik yang perlu dilakukan oleh setiap manusia yang beragama itu adalah sebagai berikut:
1. Berbuat baik kepada diri sendiri.
Pengertian berbuat baik kepada diri sendiri adalah menjaga diri agar supaya tidak tergoda oleh rayuan syaitan, tetapi selalu menjaga dan berusaha agar supaya diri sendiri dapat mengerjakan segala perintah Tuhan menurut ajaran agama masing-masing.
2. Berbuat baik kepada keluarga.
Dalam hal ini yang dimaksud adalah berupaya agar diri sendiri dapat berguna bagi keluarga, baik keluarga sendiri (dekat) maupun keluarga besar (satu keturunan). Berguna disini hendaknya tidak diartikan harus mengorbankan keyakinan (iman), akan tetapi hendaknya diartikan semakin meningkatkan iman tanpa menyinggung perasaan insan di dalam keluarga, misalnya membantu keluarga yang tidak mampu dalam bidang ekonomi dan sebagainya.
3. Berbuat baik kepada masyarakat sekelilingnya.
Dalam hubungan dengan masyarakat hendaklah selalu diupayakan agar diri sendiri dapat berguna dalam segala hal, kecuali yang menyangkut keyakinan pribadi. Kerukunan di dalam kehidupan bermasyarakat serta tolong-menolong antara sesama anggota masyarakat, kasih-mengasihi, kunjung-mengunjungi dan lain sebagainya akan membawa adanya kehidupan masyarakat yang tenteram dan berkasih sayang. Sedang keyakinan (iman) hendaknya dikhususkan untuk diri pribadi, kekayaan, kepandaian dan hal-hal yang lain sebaiknya dipergunakan untuk saling tolong-menolong sesama anggota masyarakat tanpa memandang suku bangsa dan agama di dalam negeri tercinta.
4. Berbuat kebaikan kepada seluruh manusia yang ada.
Bilamana diri sendiri telah biasa melaksanakan perbuatan baik di dalam masyarakat, maka untuk hubungan dengan seluruh manusia tanpa mengenal perbedaan agama, bangsa dan negara bukanlah menjadi persoalan yang rumit. Persoalannya akan sama dengan point 3, hanya saja harus selalu diperhatikan mengenai keyakinan pribadi. Bukanlah bila hal ini dapat dilakukan akan tercapai dengan sendirinya kerukunan beragama dalam negara dan juga kerukunan beragama di dunia. Alangkah indahnya dunia yang semacam itu.
5. Berbuat baik kepada alam lingkungan sekelilingnya.
Dalam pengertiannya ini, hendaknya ditiadakan pendapat yang ingin menguasai alam dan lingkungan sekelilingnya untuk kepentingan manusia saja. Hendaklah disadari bahwa antara manusia dan alam mempunyai hubungan yang sangat erat, termasuk juga tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Dalam berbuat baik dengan alam lingkungan ini, tetap pula harus dipertahankan agar diri sendiri tidak pula menuhankan alam lingkungan ini. Hendaknya selalu dijaga kelestarian lingkungan dengan mengadakan pemeliharaan yang sebaik-baiknya.
Bilamana manusia yang beragama telah dapat mengambil manfaat dari adanya beberapa persamaan syari’at agama-agama yang ada dan berusaha untuk dapat melaksanakannya, maka akan jadilah negeri tercinta ini semakin indah. Apalagi tiap-tiap agama saling berlomba-lomba didalam berbuat kebajikan tersebut, bukan hanya indah saja yang diperoleh oleh negeri ini, akan tetapi perwujudan masyarakat adil dan makmur yang diridlai Tuhan Yang Maha Esa menjadi kenyataan.
Bilamana hal ini terjadi di negeri tercinta ini, maka tidaklah mudah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan serta terornya. Bangsa di negeri ini akan menyatu dengan sendirinya, kemudian akan merupakan satu komponen yang kuat dalam menghadapi musuh manusia yang paling utama yaitu syaitan dengan sekutu-sekutunya.
Akhirnya, mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan petunjuk dan tuntunan kepada seluruh manusia di negeri ini agar dapat mewujudkan adanya kehidupan kerukunan umat beragama. Mudah-mudahan pula Tuhan menyingkirkan segala pengaruh syaitan dan sekutunya, agar supaya kehidupan masyarakat adil dan makmur dapat terwujud sesuai dengan keridlaanNya.


Hadapi Perdagangan Bebas, Jatim Tingkatkan Skill Kompetensi Tenaga Kerja

Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat diri dalam menghadapi perdagangan bebas, khususnya di tingkat asia. Caranya dengan menciptakan suasana kondusif, memperkuat produk dalam negeri, dan terus meningkatkan skill dan kompetensi keahlian tenaga kerja.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs H Saifullah Yusuf saat meresmikan pusat uji kompetensi Jawa Timur di UPT Balai Latihan Kerja Menanggal Surabaya, Selasa (5/2) mengatakan, pemerintah harus menciptakan suasana kondusif dan stabil khususnya bagi dunia usaha. Suasana kondusif mutlak harus diciptakan agar investor bisa masuk ke Jatim. Jika terdapat masalah bisa segera diselesaikan.
Dia mencontohkan, Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang selalu menjadi persoalan setiap tahunnya sehingga para buruh melakukan unjuk rasa. Selama sistemnya tidak diperbaiki, maka setiap tahun pasti muncul masalah. Ini karena buruh dan pengusaha mempunyai ukuran sendiri dalam menentukan besaran UMK.
Dalam hal ini, kata Gus Ipul, pengusaha mengeluh tuntutan kenaikan upah yang berlebihan, sementara buruh berpendapat tuntutan kenaikan upah sangat wajar karena kebutuhan setiap tahun naik. Maka dari itu, perlunya penciptaan suasana kondusif antara buruh dengan pengusaha agar akan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
Wagub Jatim yang akrab dipanggil Gus Ipul ini menambahkan, hal kedua yang perlu dilakukan dalam menghadapi perdagangan bebas adalah memperkuat produk dalam negeri. Indonesia khususnya Jatim memiliki potensi pasar yang sangat besar, dengan jumlah penduduk mencapai 37 juta jiwa. “Ini merupakan potensi besar dengan mencintai dan meningkatkan serta meningkatkan produk dalam negeri karena pasar yang ada di Amerika dan Eropa sedang melemah,” paparnya.
Faktor penting lainya, katanya, dalam menghadapi perdagangan bebas yakni dengan meningkatkan skill atau keterampilan. Menghadapi pasar bebas yang produk barang atau jasa bisa bebas keluar masuk maka sumberdaya manusia harus ditambah dengan keahlian yang baik.
“Saat ini dunia kerja telah berubah seiring dengan perubahan zaman dan waktu. Di bidang kedokteran, jika dahulu penyakit jantung bisa ditangani oleh dokter jantung saja, namun saat ini sudah ada dokter jantung spesialis bilik kiri bagian atas. Artinya, saat ini segala kompetensi dan tenaga ahli sudah memiliki kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu, sebagai pasar yang besar diharapkan masyarakat pekerja harus meningkatkan kompetensi dan keahlianya,” urainya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jatim, Dr Hary Soegiri mengatakan, Pusat Uji Kompetensi mempunyai tugas pokok dan fungsi melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan maksud agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat yang akan melaksanakan ujian atau sertifikasi bisa berlangsung secara cepat, tepat dan berkualitas. “Pusat Uji Kompetensi yang diresmikan ini merupakan pertama kalinya dibentuk di Indonesia,” pungkasnya. Sumber: Humas Pemprov Jatim.

Sabtu, 29 Desember 2012

Sekularisme dalam sistem pendidikan

SEKULERISME DALAM SISTEM PENDIDIKAN    
Oleh Muhammad yusran
Kondisi Realitas
Apa itu sekulerisme? Menurut Muhammad Qutb ( ancaman sekulerisme,1986) diartikan sebagai, Iqomatu al-hayati 'ala ghoyri asasina mina al-dini( membangun struktur kehidupan di atas landasan selain sistem Islam). Dan An-Nabhani mengartikan, "Pemisahan agama dengan kehidupan, ide ini menjadi aqidah(asas), sekaligus qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis) serta sebagai qaidah fikriyah ( landasan berfikir)"(lihat:Nizhamul Islam Al Quds,1953) atas dasar berfikir ini, mereka berpendapat bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat peraturan hidupnya, dan sesuai dengan hawa nafsu serta akalnya yang sangat terbatas itu.
Sangat ironis. Jelas kondisi ini menimpa sistem pendidikan itu sendiri, dan hampir di semua negara bahkan negeri-negeri kaum muslimin terhadap dunia pendidikan mereka ketika ini, akibat dari apa yang disebut westoxciation ( Racun Pemikiran Barat) yakni: pluralisme, sinkretisme, nasionalisme, liberalisme, kapitalisme, sekulerisme dan seabrek isme lainnya dan mencoba untuk melakukan imitasi bahkan subtitusi secara total atau melakukan pemblasteran ( perkawinan ) antara Sistem Barat ( Sekuler-Liberal ) dengan Sistem Islam yang suci, fitrah dan mulia itu. Fenomena dunia pendidikan menjadi topik perbincangan yang menyentuh berbagai kalangan dari masyarakat jelata, para profesional, akademisi, cendekiawan sampai birokrat namun tidak berdaya menyatukan konsep dan realitas, justeru SDM semakin carut-marut dan porak-poranda yang memiliki karakteristik pola fikir dan pola sikap yang tidak Islami.
Para pengambil kebijakan itu tidak mampu memberdayakan masyarakat lewat pendidikan sehingga banyak terjadi pengangguran, tawuran, pencurian, pergaulan bebas dan setumpuk masalah sadisme lainnya. Setidaknya dua fenomena pendidikan yang dihadapi negara-negara di dunia ketika ini: pertama, secara mikro ( prasarana & SDM ), kedua secara makro (sistem pendidikan). Yusuf Kalla bertutur "KKN telah merasuki sendi-sendi kehidupan contoh pendidikan : uang bangku, uang bangunan, lewat jendela. Alangkah naifnya sistem pendidikan "Indonesia", yang mengemban misi luhur untuk mendidik dan membudayakan ilmu dan menanamkan moral ternyata langkah awalnya, sudah di ajarkan mata pelajaran KKN sebagai mata kuliah/pelajaran perdana serta arogansi intelektual mahasiswa yang tidak kunjung sadar dan insyaf dalam meramu kegiatan OSPEK yang tidak Islami itu, sehingga berada di luar nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Islam.
Realitas ini sepatutnya membuat umat mengurut dada, dan prihatin bukankah pendidikan adalah sokoguru pembangunan dan keberhasilan suatu umat?, bila anak-anak dan para pemuda tidak mendapatkan pendidikan yang layak, dapat dibayangkan generasi macam apa yang muncul di masa datang. Pertanyaan muncul apakah Islam mampu memberikan solusi bagi dunia pendidikan. Jargon umum yang mashur di masyarakat adalah sosok mahasiswa/sarjana sebagai "Agen of Change", sehingga sistem pendidikan suatu masyarakat cukup beragam sesuai dengan karakteristik kultur dan norma yang mendasari kehidupan masyarakat tersebut.
Kadang kita bangga ketika menengok corak dan karakteristik pendidikan Barat dan Eropa yang unik [baca:sekuler] dan maju, tapi tidak bisa dikesampingkan kebobrokan moral dan etika yang menghancurkan pranata-pranata kehidupan sosial manusia yang agung dan fitrah dari asalnya, dan masyarakat yang bertumpu pada nilai-nilai materialistik semata-mata, hanya akan melahirkan generasi yang berfikir materi semata "Profit Oriented" dan mejadikan manusia Economy Animal (Binatang Ekonomi). Kebingungan lain yang sering timbul adalah bagaimana mengaitkan agama dan pendidikan umum secara wajar.
Bagaimana mempersandingkan dan menggandengkan pelajaran agama dengan eksakta?. Bagaimana madrasah harus menghadapi Teori Darwin dalam bidang Biologi. Semua itu jelas akan terjadi bila tsaqofah sekuleris menggerogoti sistem pendidikan. Anekdot yang menggelikan dan bodoh adalah bagaimana mencetak generasi "Berotak Jerman dan berhati Mekkah". Istilah-istilah ini mencoba menjelaskan Islam yang hanya mengaburkan bahkan menghilangkan esensi pemikiran Islam yang murni, agung dan mulia.
Kondisi Ideal
Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan (Goyah) pendidikan adalah melahirkan "Kepribadian Islam" dan membekali dengan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan ( lihat: An-Nabhani. Nizhamul Islam, Al-Quds 1953), sehingga metode penyampaian pelajaran dirancang sedemikian rupa untuk menunjang tercapainya tujuan dan setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang [baca:haram]. Dengan demikian pendidikan Islam tidak hanya "Transfer of Knowledge", tanpa memperhatikan ilmu pengetahuan yang diberikan itu, apakah dapat menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku yang Islami atau tidak. Olehnya itu harus selalu terikat dengan Ide tentang kehidupan dan nilai-nilai kehidupan Islam yang selalu berputar pada lingkaran peningkatan Iman.
Apabila terdapat tsaqofah yang jika diajarkan mengakibatkan penyelewengan, penyimpangan dan memperlemah aqidah, maka haram mempelajarinya, sampai efek negatifnya hilang (sesuai kaidah fiqih). Dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islan tidak ada, tetapi justeru muncul dalam masyarakat Sekulerisme-Liberalisme. Generasi muslim yang intelek dibidangnya masing-masing sesuai dengan kenginan dan kebutuhannya, sekaligus sebagai seorang yang faqih fid Din ( memahami Islam) dan berkepribadian Islam. Tidak ada pemisahan ilmu agama dan dengan ilmu tentang kehidupan dan tidak dikenal rohaniawan atau birokrat, ilmu adalah milik Allah SWT dan kita semua wajib mengamalkan sesuai dengan syariat Islam.
Konsepsi ini terbukti dan rill pada masa pemerintahan Khilafah Islamiyah. Tatkala Eropa terbelenggu dan terpasung oleh kebodohan, kejumudan dan hal-hal yang berbau mistis, kaum Muslim telah menikmati kamajuan sains dan ilmu pengetahuan yang belum pernah dijumpai dalam sejarah kemanusian sebelumnya. Jadi dalam kondisi sekarang ini, harus ada perubahan mendasar yaitu : "Perubahan Paradigma Pendidikan" meliputi: kebijakan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran. Dan "Perubahan Konsepsi Ilmu" atau dengan istilah science Islamitation (Gerakan Islamisasi).
Proses Islamisasi memiliki empat tingkat kepentingan yang inheren dan berkorelasi erat, yakni:
  1. kepentingan aqidah,
  2. kepentingan kemanusiaan,
  3. kepentingan peradaban,
  4. kepentingan ilmiah.
Islam memposisikan pendidikan pada hukum wajib, jadi menyianyiakan dan mengabaikan pendidikan setiap manusia adalah kemungkaran, jadi jelasnya kemungkaran ini banyak diabaikan. Islam telah memberikan solusi praktis, tepat dan jelas. Mewajibkan negara berperan penuh dan bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pendidikan umat dalam memahami Tsaqofah Islamiyah dan kemaslahatan umum rakyatnya, termasuk non-muslim yang dilindungi haknya untuk hidup damai dan sejahtera, jadi jelas kewajiban diujudkannnya Negara Khilafah Islamiyah yang akan menghimpun warna-warni serta potensi kaum muslimin dan menyatukan Dunia Islam serta akan mengatur tatanan hidup kemanusiaan dengan adil, bijaksana dan tidak melanggar fitrah manusia yang suci dan luhur sebagaimana Barat membangun manusia dengan sekulerisme-liberalismenya. Dengan Sistem Islam menjadikan hidup ini diliputi keberkahan dan kedamaian. Bila kewajiban[baca:pendidikan ideal] ini hanya mungkin dengan ditegakkannya sistem politik dan pemerintahan Islam, maka tegaknya sistem [baca: Daulah khilafah Islamiyah] Itu wajib adanya, sebagaimana kaidah syara'
" ma la yatimmul wa jibu illa bihi fahuwa wajib", [ Bila suatu kewajiban kecuali adanya sesuatu maka sesuatu itu wajib adanya] Wallahu Mustaan. Wa maa tau fiiqii illaa billaah

Kamis, 13 Desember 2012

Membangun Moral di abad Global

Membangun Moral di abad Global       

"if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion lacks a wide heaven to breath in".(Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk berjalan diatasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas).
Kata-kata Prof. John Oman yang di kutip oleh Dr. Faisal Ismail diatas mengajak kepada kita untuk menilik kembali terhadap pandangan kita yang selama ini kita pegang khususnya dalam hal memperbincangkan dalam kemajuan suatu bangsa.Kemajuan suatu bangsa tak hanya di ukur melalui patokan kemajuan teknologinya dan GNP nya semata tetapi juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya seperti yang tertulis dalam syairnya Ahmad Syangu, "sesungguhnya ini suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka bejat hancurlah bangsa itu".
Kemajuan terknologi di segala bidang memang telah mempermudah kerja manusia tetapi jika tak ada control, kemajuan teknologi malah menyeret masyarakatnya kedalam berbagai jebakan  krisis seperti krisis kejiwaan, krisis ekologi, krisis kejujuran dan masih banyak lagi. Dampaknya kini mulai muncul seperti kasus bunuh diri, membunuh bayi-bayi maupun gejala-gejala depresi berat yang menyelimuti masyarakat diabad global adalah tanda dari kehampaan jiwa masyaraka modern.
Di lain pihak, bahaya kerusakan alam semakin mengkuatirkan. Tanah longsor, banjir bandang, angin ribut, gempa bumi yang akhir-akhir ini marak terjadi di tanah air menambah "kengeluan" bangsa ini. Glogbal worming merupakan ancaman serius bagi segenap makhluk di muka bumi. Dalam kurun waktu seratus tahun terakhir suhu bumi akan meningkat 0.7 derajat celcius. Para ahli memprediksikan, jika tak ada upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pada tahun 2100 suhu bumi akan meningkat hingga 0,8 derajat celcius. Padahal jika kenaikan suhu melebihi dua derajat celcius maka akan terjadi kepunahan banyak spesies dan ekosistem. Salah satu penyebab terjadi perubahan iklim global di Indonesia adalah kebakaran hutan dan lahan serta semakin rusaknya hutan akibat pembalakan liar.(Tempo, 30 april 2006)
Semua fenomena diatas semakin meyakinkan akan kebenaran firman Tuhan bahwa"Telah tampak kerusakan di dadarat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia"(Q.S ArRum:41).Kalu kita cermati seksama dari pengalaman hidup maupun kita kaji dari Al Qur'an bahwa kerusakan alam merupakan akibat kerakusan manusia yang tak arif dalam mengeksploitasi kekayan alam.Kerakusan adalah urusan moral yang tersimpan dalam sanubari masing-masing orang. Moral yang menjabat "chek and balance" telah mengalami kemerosotan yang menyebabkan penodaan terhadap harkat kemanusiaan (human dignity) sehingga pemiliknya terperosok sebagai budak penyembah nafsu.Walau kita tahu bahwa abad ini adalah abadnya orang-orang pintar tetapi kehidupanya jauh dari tanda-tanda orang berilmu. Mengapa demikian? Allah menjawabnya ,"Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhanya. Allah memberi sesat dengan ilmumya dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas kepalanya itu. (Q.S AL Jatsiyah:23)
Sebab utama merosotnya moral adalah hilangnya keyakinan (iman) terhadap Tuhan, hari akhir dan balasan surga-neraka. Agama yang telah di berikan Tuhan sebagai pembimbing di tinggalkan begitu saja, sehingga norma-norma yang mengatur perilaku manusia dilupakan. Dosa telah dianggap ringan dan hal yang biasa, Tuhan hanyalah cerita tahayul dan dianggap sebagai sosok yang di gunakan untuk menakut-nakuti anak kecil belaka. Hingga timbullah pandangan bahwa takkan ada lagi kehidupan sesudah mati, tak ada lagi balasan surga neraka, seperti yang dikatakan Klein, "dengan membebaskan diri dari rasa takut terhadap ancaman  neraka, maka lepas pula harapan akan kenikmatan surga, orang hidup,mati, dan selesailah sudah".Pernyatan itu di tepis Allah, "Dan mereka berkata "tak ada kehidupan lain, melainkan kehidupan di muka bumi ini. Kita mati dan hidup tidak ada yang memusnahkan melainkan waktu. Sesungguhnya mereka tidak tahu tentang hal itu, mereka hanya menduga-duga saja".
Lalu bagaimana kita menyelamatkan moral kita yang selama ini tercecer di lembah hiruk pikuknya nafsu sekaligus mengembalikan "tuhan" kita Yang telah kita "hilangkan" tersebut ? jawabannya adalah seperti yang telah di katakana Prof.Jaques Barzun, "restore god to the fullness of his reality" (kembalikan Tuahan kepada kedudukanNya yang sesungguahnya).Dengan mengacu pada ucapan jaques berarti kita harus menghadirkan Tuhan dalam segala hal dalam menampaki proses kehidupan kita, menghadirkan hakikat tuhan bahwa Dialah sbagai inspirasi atau patokan moral hidup.
Kalau memang "tuhan" harus hadir dalam segala dimensi kehidupan ini maka salah satu jalan yang harus di tempuh adalah membentangkan agama sebagai jalan bagi kita untuk lebih dekat atau lebih mengena rasa ketuhanan kita,.Mengapa harus agama yang kita pilih sebagi salah satu cara bagi kita untuk menghadirkan tuhan atau sumber moral kita ?.
Memperbincangkan masalah sumber moral yang sesuai dengan perilaku manusia sekaligus tak pernah kering adalah agama sebagai jawabannya, karena agama merupakan jalan penyampaian moral tuan yang di turankan kepada makhluknya.Moral yang bersumber dari agama akan menjadi kuat dan tahan terhadap berbagai benturan zaman sehingga agama akan tetap memposisikan "manusia sebagai manusia".
Adalah pasti bahwa agama islam merupakan sumber nilai-nilai moral islam. Nilai moral dalam islam sangat di junjung tinggi dan ditempatkan pada kursi agung.Karena moral merupakan elemen penting dalam membentuk peradaban. Nabi Muhammad di utus kedunia tak sebatas menyampaikan risalah ketauhidan semata melainkan menyampaikan pesan-pesan moral yang hasanah.("tiadalah Kami mengutus kamu(Muhammad)melainkan bagi rahmat semesta alam. Aku di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia.)
Jelaslah bahwasannya misi Muhammad tidak sekedar mengajarkan ritual-ritual ibadah, do'a atau menyuruh jihad, melainkan sebuah misi yang sangat mulia yakni menghijrahkan manusia dari kesesatan menuju kebenararan ,dari sifat barbarisme menuju sikap tawadhu', dari sikap rakus menuju sikap qona'ah dan ikhlas. Menjadikan manusia kembali kefitrohnya yang di ridoi Tuhan.
Moral islam menekankan aspek penyucian hati karena pada hakekatnya hati merupakan pusat inspirasi dan motivasi akal untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan terhadap sesuatu hal yang akhirnya melahirkan suatu pandangan (persepsi). Manusia yang pandangan hidupnya tidak jelas atau mengambang maka cenderung perilakunya pun nampak amburadul dan bingung. Keyakinan yang tidak mantap akan melahirkan sosok-sosok manusia kelas rendah, munafik, pragmatis, hedonis dan sekule. (Dr. Muhammad Tholib, Melacak kekafiran berfikir).
Hal ini pernah terjadi pada bangsa arab saat islam belum datang .Arab jahiliyah kebanyakan kaum pengembara badui yang hidupnya nomaden, memiliki jiwa yang kasar, kering dari "air ketauhidan", suka merampok, tak tahu halal haram, hanya berorientasi pada kesenangan yang sekejap sehingga alqu'an mengatakan orang-orang ini munafik dan tak bertuhan.
Tetapi setelah islam datang keadaan berubah, mereka menjadi santun, terbimbing kejalan yang benar dan ditinggikan kedudukannya yang semula bersifat hewaniyah kepada kedudukan yang mulia.
Itulah islam yang lebih mengedepankan pembentukan moral di banding dengan hal lain. Karena kita tahu bahwa moral merupakan penentu"warna" peradaban manusia. Jika bangsa yang besar, maju dalam bidang keduniaan saja tetapi moral bangsanya amburadul maka sudah dapat di pastikan bangsa itu akan segera runtuh
.
Islam di datangkan untuk memperbaiki peradaban manusia oleh karena itu islam adalah agama peradaban dan tak menentang peradaban suatu bangsa manapun selama peradaban itu memberi manfaat kepada manusia dan mengangkat harkat, martabat manusia. Namun jika peradaban itu ternyata tak sesuai dengan fitroh manusia dan mendehumanisasi, maka islam akan melawan ,karens islam adalah agama perlawanan.Wa Allahua'lam.

Rabu, 10 Oktober 2012


Melihat Dimensi Orba sebagai Kelanjutan Orla

soeharto murid soekarno - roy bb janis

Judul : Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno
Penulis : Roy BB Janis
Penerbit : Optimist, Jakarta
Cetakan : I, September 2012
Tebal : xx+306 halaman
ISBN : 978-602-97878-2-5
Orde Baru (Orba) di bawah Soeharto acap kali dianggap sebagai benar-benar baru, terlepas dari rezim sebelumnya, Orde Lama (Orla) pimpinan Soekarno. Pada satu sisi memang ada yang benar-benar baru, tetapi lebih banyak yang sama. Tepatnya, rezim Orba merupakan kelanjutan praktik sebelumnya. Orba hanya mengulang, melanjutkan, dan menyempurnakan rezim Orla.
Inilah yang ingin disampaikan Roy BB Janis dalam bukunya, Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno. Tidak ada yang benar-benar original dari rezim Orba. Contoh, dalam mempertahankan UUD 1945 sebagai konstitusi permanen melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejak kemerdekaan, Indonesia telah memiliki tiga UUD Sementara, yaitu UUD 1945 (berlaku dari 1945 sampai 1949), UUD 1949 (berlaku kira-kira setahun), dan UUD 1950 berlaku dari 1950 sampai 1959 (hlm 119).
Pancasila, yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 juga demikian, yang menjadi satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Presiden Soekarno memperkenalkan tafsir terhadap Pancasila dengan Manipol-Usdek (Manifesto Politik UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia). Manifesto ini merupakan materi pokok pidato Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1959 berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang kemudian ditetapkan Dewan Pertimbangan Agung menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara (hlm 121).
Pada zaman Orba, UUD 1945 ini juga terus dipertahankan, bahkan disakralkan karena tidak ada amendemen. Pancasila juga demikian. Kelompok, organisasi, hingga partai harus berasaskan Pancasila.
Soeharto juga membuat penafsiran Pancasila yang didoktrinkan kepada masyarakat Indonesia lewat Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila yang dikuatkan dengan Ketetapan MPR No II/MPR/1978 (hlm 132).
Sistem kepartaian pada masa Orla juga dilanjutkan Orba. Kegagalan sistem Demokrasi Parlementer dan kekisruhan politik pascapemilu 1955 dengan banyak partai membuat Soekarno memperkenalkan ide Demokrasi Terpimpin dan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunisme).
Dengan Demokrasi Terpimpin, Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup, meski akhirnya terjegal di tengah jalan. Melalui Nasakom, Soekarno ingin mengganti sistem multipartai dalam Demokrasi Parlementer sebelumnya. Nasakom inilah yang akan menopang dan memperkuat jalannya pemerintahan.
Demokrasi era Orba memang bukan Terpimpin, tetapi Liberal. Hanya, praktiknya, kekuasaan terus-menerus diupayakan agar dipegang Soeharto. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa seorang presiden bisa dipilih kembali pada periode berikutnya. Inilah yang dilakukan Soeharto melalui mesin politik Golkar yang disokong militer begitu kuat.
Dari tiap pemilu, Soeharto terus terpilih karena Golkar selalu menjadi pemenang. Dia mundur pada Mei 1998 karena tekanan publik. Genap sudah 32 tahun sejak pertama Soeharto menjadi presiden tahun 1966. Krisis ekonomi 1997/1998 menjadi faktor lain yang ikut juga membuat kekuasaan Soeharto jatuh.
Faktor ini pula yang dulu menjadi penyebab rezim Soekarno jatuh dan berpindah tangan. Demokrasi Liberal era Orba ternyata hanya kulit. Isinya tidak berbeda dengan Demokrasi Terpimpin, yakni terciptanya otoritarianisme.
Melalui buku ini, Janis menegaskan bahwa doktrin “baru” pada rezim Orba tidaklah benar-benar “baru”. Dia justru merupakan kelanjutan atau meneruskan rezim sebelumnya. Soeharto tiada lain adalah “murid” atau “pelanjut” ajaran politik Soekarno.
Buku ini hanya fokus pada titik-titik persamaan, tidak menyentuh sedikit pun perbedaan yang bisa disebut “baru”. Misalnya, orientasi ekonomi Orla lebih cenderung ke sosialis, sementara Orba ke kapitalis.

Kamis, 20 September 2012

Mengukur Ikhlas Kita 


Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)
Setiap amal bergantung kepada niatnya. Yup, benar banget. Niatnya pun kudu ikhlas karena ingin mengharap keridhoan Allah Swt. semata. Hmm.. kudu ikhlas ya? Waduh, kayaknya kata itu buat kita jadi makin asing neh. Bukan kenapa-kenapa, susah juga nemuin orang yang mau ikhlas di jaman sekarang. Segalanya diukur dengan duit, dengan harta benda, ketenaran, cari muka dan sejenisnya. Iya, maksudnya kalo kita mau nolong orang kadang yang kepikiran: nih orang mau ngehargai gue nggak sih; orang ini kalo gue bantu mau balas jasa nggak ke gue; kalo gue menolong dia nama gue harum nggak sih; kalo gue nolong orang ini, kira-kira berapa gue dibayar; dan seabreg pikirin lainnya yang ujungnya itung-itungan deh.
Bro en Sis, secara teori udah banyak orang yang jelasin. Seperti kata teori pula, kayaknya gampang untuk bisa ikhlas. Tapi praktiknya, duh kita bisa rasakan sendiri gimana susahnya jaga hati dan jaga pikiran biar ikhlas kita nggak ternoda. Soalnya, ada aja celah yang bisa bikin kita melenceng dari niat awal dalam berbuat. Awalnya sih insya Allah bakalan ikhlas, eh nggak tahunya di tengah jalan ada yang godain kita supaya nggak ikhlas. Halah, gawat bener kan?
Sobat muda muslim, sekadar ngingetin memori kita, dalam Islam ikhlas ternyata mendapat perhatian khusus lho. Soalnya, ini erat kaitannya dengan amal perbuatan kita dan keimanan kita kepada Allah Swt. Jangan sampe deh kita beramal diniatkannya bukan karena perintah Allah Swt. atau bukan karena ingin mendapat ridho Allah Swt. Kalo sampe diniatkan dalam beramal karena ingin dipuji manusia gimana tuh? Duh, nggak tega deh saya nyebutinnya. Soalnya, tuh amal nggak bakalan ada bekasnya alias nggak mendapat ridho Allah Swt. Amal kita jadi sia-sia, Bro. Ih, nggak mau kan kita beramal tapi nggak dapat pahala? Amit-amit deh!
Bro en Sis, ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah Swt. dalam al-Quran menyuruh kita ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): “dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yunus [10] :105)
Rasulullah saw, juga ngingetin kita melalui sabdanya (yang artinya), “Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Daud dan Nasa’i)
Imam Ali bin Abu Thalib r.a juga berkata, “orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”
Bro, sekadar tahu aja bahwa ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seseorang nggak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Firman Allah Swt (yang artinya): Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’aam [6]: 162)
Allah Swt. juga berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS al-Bayyinah [98]: 5)
Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Karena itu nggak heran kalo Ibnu Qayyim al-Jauziyah ngasih perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau menulis, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Bro, lawannya ikhlas itu adalah ujub dan riya’. Itulah sebabnya orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya. Subhanallah!
Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengomentari ayat kedua dari surat al-Mulk (liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa), bahwa maksud dari amal yang ihsan (paling baik) adalah amal yang akhlash (paling ikhlas) dan yang ashwab (paling benar). Ada dua syarat diterimanya amal ibadah manusia, ikhlas dan benar. Amal perbuatan, termasuk ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata tetapi pelaksanaannya tidak sesuai dengan syariat Islam, maka amal tersebut tidak akan diterima Allah. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dan ibadah dilakukan sesuai dengan syariat, tetapi yang melaksanakannya tidak semata-mata ikhlas karena Allah, maka amalnya tidak diterima.
Ikhlaskah kita?
Ikhlaskah kita jika beramal tapi ngarepin imbalan materi? Ah, kamu pasti bisa menilai sendiri deh. Iyalah. Misalnya nih, kalo ortu kamu minta tolong sama kamu untuk belanja kebutuhan dapur ke warung dekat rumah, kemudian kamu minta imbalan ke ortu kamu, ati-ati lho. Itu bisa termasuk nggak ikhlas kamu berbuat. Sebaiknya lurus-lurus aja. Nggak ngerasa ada ruginya alias nothing to lose, gitu lho. Mau dapet materi apa nggak dari apa yang kita usahain, kita nggak peduli. Nolong aja. Apalagi itu sama ortu. Jangan sampe deh ketika ortu minta tolong, eh kita malah pake tarif segala: Jauh-dekat Rp 2000 (idih, emangnya naik angkot!).
Bro, kalo kebetulan kamu ditunjuk jadi ketua OSIS atau ketua Rohis, nggak usah ngarepin materi dari jabatan yang kamu sandang. Kalo kamu beranggapan bahwa dengan menjadi ketua OSIS kamu bakalan bisa dengan mudah narikin iuran dari siswa terus kamu bisa memperkaya diri, wah itu namanya bukan cuma nggak ikhlas tapi udah melakukan penyalahgunaan jabatan.
Bro, meski kita nggak ngarepin imbalan secara materi, tapi yakin deh bahwa apa yang kita lakukan pasti mendapat ganjaran kebaikan lain di sisi Allah Swt. Jadi, nothing to worry about alias nggak perlu cemas dengan jaminan kebaikan dalam bentuk lain yang Allah berikan sebagai ‘imbalan’ atas keikhlasan kita. Intinya sih, jangan ngarepin imbalan dari manusia, cukup ridho dari Allah Ta’ala aja yang kita harepin. Setuju kan?
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. Beliau mengenakan selendang dari Najran yang kasar pinggirnya. Tiba-tiba seorang badui berpapasan dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Ketika aku memandang ke sisi leher Rasulullah saw. ternyata pinggiran selendang telah membekas di sana, karena kuatnya tarikan. Orang itu kemudian berkata: Hai Muhammad, berikan aku sebagian dari harta Allah yang ada padamu. Rasulullah saw. berpaling kepadanya, lalu tertawa dan memberikan suatu pemberian kepadanya. (HR Muslim)
Subhanallah, Rasulullah saw. malah memberikan harta (berinfak), padahal orang badui itu memintanya dengan kasar. Tapi itulah Rasulullah saw. sudah mengajarkan kepada umatnya bahwa beramal baik harus ikhlas dan tanpa pertimbangan untung-rugi lagi. Hebat kan, Bro?
Oya, keikhlasan kita juga akan diuji saat kita merasa ingin dilihat oleh orang lain, lho. Kalo mikirin hawa nafsu sih, kadang kita kepikiran ya pengen dilihat oleh teman kita ketika kita berbuat sesuatu. Ketika masukkin duit ke keropak di masjid, kita bahkan kepengin banget diliatin ama temen di sebelah kita. Emang sih, duitnya kita tutupi dengan tangan satunya saat masukkin ke keropak yang diedarkan di masjid kalo ada acara di sana. Apalagi kalo sampe terbersit di pikiran dan hati kita akan adanya decak kagum dari teman yang ngeliat amal kita, “subhanallah ya, dia rajin shadaqahnya”. Duh, itu bisa menodai amalan kita, Bro. Emang nggak mudah berbuat ikhlas ya. Tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan.
Saat tampil jadi imam shalat, dan kebetulan bacaan al-Quran kita maknyus alias enak didengerin sama jamaah lain, jangan sampe deh kita punya pikiran ingin dianggap paling hebat. Apalagi kalo sampe diam-diam kita malah mengagumi diri sendiri, “orang lain nggak ada yang bisa kayak saya. Mereka pantas memilih saya jadi imam shalat”. Ah, ngeri deh. Ngeri kalo amalan kita bakalan nguap begitu aja. Insya Allah cara shalatnya sih bener asal ngikutin aturan yang udah ditetapkan dalam fiqih, tapi persoalan niat yang ada di pikiran dan hati bisa merusak amalan baik kita. Bener lho. Gara-gara nggak ikhlas, amal kita jadi sia-sia. Karena kita lebih ngarepin agar diliat oleh orang daripada ingin diliat sama Allah Swt.
Bro en Sis, emang sih kita bisa merasakan langsung kalo targetnya ingin diliat orang. Begitu suara kita mengalun manis dan easy listening saat mendendangkan nasyid terbaru dan kemudian para jamaah penonton konser nasyid tingkat RT yang kita ikutin itu bersorak gembira dan mengelu-elukan kita, pasti deh ada aja sedikit rasa jumawa en bangga diri (gue gitu, lho!). Awalnya sih boleh-boleh aja kita merasa ingin dihargai orang lain. Wajar kok. Tapi yang nggak wajar adalah kita merasa harus memposisikan diri selalu ingin dihargai dan dihormati. Kalo nggak dihargai ngambek dan kecewa. Nah, yang bisa merusak amal kita adalah karena niat yang udah tercemar “ingin selalu diliat orang”. Padahal, menjadi “dilihat orang” adalah efek samping, bukan tujuan kita dalam berbuat/beramal. Orang yang sering tampil dimuka umum wajar atuh kalo akhirnya dikenal. Tul nggak sih?
Muhasabah diri
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)
Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)
Muhasabah di sini artinya senantiasa memeriksa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana sih yang kita raih dalam beramal baik. Sudah banyak nggak pahala yang kita perbuat, atau jangan-jangan malah sebaliknya kedurhakaan yang mengisi penuh pundi-pundi amal yang bakalan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Yuk, kita bareng-bareng meningkatkan kualitas amalan kita dan memperbanyak amal shaleh. Senantiasa ikhlas, bersabar, dan bersyukur kepada Allah Swt. Nggak jamannya lagi mengingkari kelemahan kalo sejatinya kita emang lemah dan nggak mampu. Juga nggak perlu malu mengakui kesalahan jika memang kita salah. Jangan menyerang orang lain yang kita tuding sebagai biang kesalahan kita, tapi kita melakukan interospeksi diri. Sebab, kita hidup bersama orang lain. Dan kita memang saling membutuhkan satu sama lain. Kita juga pasti butuh kepedulian dari orang lain (termasuk kita sendiri harus peduli dengan orang lain). Itu sebabnya, kita harus ikhlas menerima teguran dan nasihat dari teman kita. Jangan merasa terhina jika dinasihati. Tapi sebaliknya, merasa diistimewakan karena selalu diingatkan.
Nikmati dunia ini dengan cara yang benar dan tuntunan yang sesuai ketetapan Allah Swt. dan RasulNya. Tak perlu khawatir, karena semua yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita adalah demi kebaikan kita. Tetaplah kita bersama Allah Swt. dan RasulNya. Jalani hidup dengan ikhlas, insya Allah nikmat, bahagia, tanpa perlu merasa was-was. Ikhlas menjadikan kita lebih terhormat di hadapan Allah Swt., juga menjadikan orang lain berusaha mencontoh pribadi kita yang baik. Semoga, kita semua bisa menjadi hamba-hamba Allah Swt. yang senantiasa ikhlas menghadapi berbagai kenyataan hidup sembari berdoa memohon ampun dan pertolongan kepada Allah Swt. Kita muhasabah diri: seberapa ikhlaskah kita? Hanya kita yang mampu menjawabnya.